Breaking News
Loading...
Rabu, 19 Juni 2013

Kabut tipispun turun pelan-pelan di lembah kasih
Lembah Mandalawangi...
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin


Itulah penggalan mengenai puisi Soe Hok Gie, seorang demonstran dan mahasiswa pecinta alam pada tahun 1967 M tentang lembah Mandalawangi. Semakin membuat saya penasaran tentang lembah Mandalawangi.. Nah berikut artikel tentang Lembah Mandalawangi


Lembah kasih ini yang begitu menyejukkan jiwa. Keasrian belum begitu berubah, alas lembahnya yang landai masih ditumbuhi rerumputan hijau yang lembut. Diatas alas rumput masih subur ditumbuhi beribu - ribu pohon edelweis yang tingginya rata - rata satu meter, terdapat sumber mata air jernih yang mengalir. Jarak yang ditempuh menuju Lembah Mandalawangi dari puncak Pangrango tidak terlalu lama, sekitar lima belas menit untuk menuju kesana.

www.belantaraindonesia.org

Dan, Mandalawangi - Pangrango adalah tempat yang membuat Soe Hok Gie mencintainya. Sehingga tercipta sebuah puisi untuk Mandalawangi - Pangrango. Alun - alun Mandalawangi di gunung Pangrango adalah tempat favoritnya.

Dia meninggal di gunung Semeru bersama seorang kawannya akibat menghirup gas beracun yang menghembus dari kawah Mahameru, tanggal 16 Desember 1969, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke - 27. Pada tahun 1975, makamnya dibongkar dan tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

Senja itu
Ketika matahari turun ke jurang - jurangmu
Aku datang kembali ke dalam ribaanmu
Dalam sepimu dan dalam dinginmu

     Walau setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
     Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
     Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
     Seperti kau terima dalam daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintaku dan cintamu adalah kebisuan semesta

     Malam itu
     Ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi
     Kau datang kembali dan berbicara padaku
     Tentang kehampaan semua

Hidup adalah soal keberanian
Menghadapi tanda tanya tanpa kita mengerti
Tanpa kita menawar
Terimalah dan hadapilah

     Dan diantara ransel - ransel kosong dan api unggun yang membara
     Aku terima ini semua
     Melampaui batas - batas jurangmu

Aku cinta padamu, Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup

by Soe Hok Gie

0 komentar:

Posting Komentar